Hal yang paling asik dari bercerita adalah menjawab pertanyaan. Sebelum saya berangkat sampai sekarang, banyak pertanyaan kenapa bisa sampai dapet S3, S3 di Denmark, dan semacamnya. Okelah, ini bagian dari cerita pertama, dan cerita pertama ini akan berisi tentang bagaimana saya bisa sampe dapet sekolah PhD di Denmark. Beberapa tips dan trik akan saya sampaikan di cerita ini.

Sebelum saya cerita gimana prosesnnya secara detail, beberapa hal ini mungkin bisa jadi pertimbangan kalian semua kalau mau sekolah, bahkan sampai PhD. Sebelum mulai melangkah jauh, kalian bisa coba memulai dari pertanyaan-pertanyaan simpel yang kalian tujukan ke diri sendiri, misalnya;

1. Mengapa kalian harus ambil PhD, atau sekolah sampai PhD?

Setiap orang punya alasan mengapa mereka sekolah meskipun alasan umumnya kadang-kadang klasik dan kadang ga masuk di akal. Katakanlah, well, ga usah jauh-jauh di level PhD. Tanyakan diri kalian, kenapa dulu kalian sekolah dari TK sampai S1? Lalu buat kalian yang udah di tingkat S2, tanyakan lagi kenapa kalian sampai ke S2? Terakhir, yang paling penting, tanyakan kenapa kalian harus ambil S3?

Dulu, saya sering ngobrol dengan beberapa orang yang masih S1 untuk tahu alasan mereka sekolah S1. Ada yang jawab, karena disuruh orang tua, karena pilihan sendiri, agar dapat pekerjaan yang bagus, karir yang bagus, dan lain-lain. Lalu saya juga pernah bertanya ke beberapa orang yang lagi ambil S2, alasannya juga beragam. Ada yang bilang karena ingin menjadi dosen, ingin melanjutkan karir di bidang akademik, karena tidak dapat pekerjaan, karena perusahaan di bidangnya lagi ga stabil, dan lain-lain.

Apapun alasannya, menurut saya itu semua ada dasarnya, terlepas apakah dasarnya tepat, baik, benar, atau sebaliknya. Itu semua tidak lepas dari pengalaman, kehidupan, cita-cita, dan banyak faktor lainnya yang sifatnya individu.

Lalu…. Untuk S3? Ini ga gampang jawabnya, hehe. Tapiiiiiii.. Waktu ambil sandwich program di Salford, saya pernah nanya sama temen saya dari India yang ambil Control System Engineering kenapa dia ambil S3. Kenapa saya tanya, karena most of Acoustics students di departemen saya (Acoustics and Audio Engineering), S3 di bawah proyek UK, jadi mereka beasiswa. Tapi dia, si India tadi, biaya sendiri!! Waktu saya tanya, dia bilang ingin develop karirnya. Dan itu jenis jawaban unik menurut saya yang bikin saya sadar, mungkin di negara maju (UK maksudnya) mengembangkan karir melalui PhD memang penting dan bisa dilakukan. Tapi kalo kalian lakukan itu di negara kita, silakan jadi dosen atau peneliti yang mana institusi penelitiannya ga banyak dan ga banyak industri yang memiliki R&D. Kalaupun ada, ga banyak yang menerima lulusan S3.

2. PhD itu bukan sekolah formal, tapi sekolah kehidupan

Boleh jadi kalian berpikir mengenai dosen-dosen kalian yang lulusan luar negeri itu, “wah keren ya si bapak ini atau si ibu itu lulusan S3 dari Singapura, Jepang, Korea, Australia, Amerika, Swedia, Belanda, Jerman, Denmark, dan lain-lain“. Pikiran semacam itu juga sedikit terlintas di kepala saya waktu pertama kali S1. Kok sedikit? Iya, karena sisanya yang saya pikirin adalah bagaimana caranya mereka bisa masuk ke universitas-universitas di negara tersebut. Dan pikiran selanjutnya, yang ini saya juga telat sadarnya (karena bergaul sama dosen-dosen aja makanya jadi sadar), adalah bagaimana mereka bertahan dan bisa lulus dari universitas-universitas tersebut. Percayalah, pemikiran yang kedua jauh lebih penting dari pada yang pertama.

Berdasarkan cerita dan pengalaman yang saya sering dapet dari supervisor, kolega dosen, dan yang lain, S3 bukanlah sekolah biasa. S3 adalah “sekolah kehidupan“. Kalo kalian paham tentang “porsi pembimbingan” antara S1, S2, dan S3, maka porsi S3 lah yang paling sedikit. Di sisi lain, tuntutan akademiknya mulai dari publikasi ilmiah, presentasi, hingga menulis disertasi, tekanan dari supervisor adalah yang paling besar. Pertanyaannya, kenapa saya bilang itu sekolah kehidupan? Karena S3 bukan cuma tentang sekolah. Bayangin kalian punya istri/suami, maka tanggung jawab kalian juga sebagai suami/istri, bukan hanya sebagai pelajar. Terlebih lagi kalo kalian punya anak, maka peran kalian sebagai ayah/ibu juga perlu diutamakan. Urusan-urusan kita sebagai anak, suami/istri, dan atau ayah/ibu, perlu mendapatkan porsi pikiran, tenaga dan waktu, selain peran kita sebagai mahasiswa S3. Berperan sebagai semuanya tidak bisa dikatakan sebagai hal yang mudah, namun bukanlah hal yang tidak mungkin. Ingat, tanggung jawab yang dipikulkan Tuhan kepada kita bermakna kita mampu memikulnya. Ikhtiar dan tawakkal menjadi kuncinya.

3. Apa rencanamu setelah menyelesaikan PhD?

ebelumnya, ketahuilah bahwa tidak semua PhD student berhasil secara akademik. Di beberapa institusi di UK, jika seorang mahasiswa S3 tidak berhasil akan ada beberapa skema, dan skema terbaiknya adalah mereka akan mendapatkan gelar S2 lagi. Saya sendiri kenal beberapa orang yang mengambil S3 di LN dan tidak berhasil mendapatkan gelar. Secara pribadi, saya ga bisa bilang itu kegagalan, tapi banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita mereka. Beberapa hal terpenting adalah “manajemen peran”, “manajemen keinginan”, dan “manajemen konflik”. Well, akan kita bahas lain kali.

Di poin ketiga ini saya pingin menekankan bahwa, mengambil PhD atau jika sudah diterima, tidak menandakan pertimbangan selesai. Hal lain yang tak kalah penting dan perlu dipikirkan adalah, apa yang selanjutnya ingin kita lakukan setelah menuntaskan studi S3? Bisa jadi kalian akan kembali ke Indonesia untuk berkarya secara langsung di institusi dalam negeri. Bisa jadi kalian memilih untuk tinggal sementara di negara orang, meneruskan ke jenjang Post Doctoral. Bisa juga kalian memilih berkarir di universitas untuk mengajar, atau bekerja ke institusi / industri lokal di luar negeri atau bahkan internasional. Itu semua bisa menjadi opsi. Intinya, pikirkan kemungkinan pengembangan karir kalian ke depannya. Pilih dan mantapkan mana yang membuat kalian paling enjoy menjalaninya. Pahamilah bahwa tidak ada yang membuat kalian merasa senang di dalamnya jika kalian merasa terpaksa menjalaninya. 🙂

Okay! Tiga hal pertimbangan pertama udah saya sampaikan ke kalian. Ketiga hal tadi adalah hal-hal dasar banget yang perlu kita pikirkan sejak awal. Ketiga hal itu juga yang jadi pertimbangan saya ketika memutuskan untuk mencari peluang PhD sampai berangkat. Bisa jadi, kalian juga punya perspektif lain yang ingin disampaikan terkait cerita kali ini, silakan sampaikan di kolom komen ya! Selanjutnya saya akan cerita tentang PhD itu sendiri dan apa saja yang perlu kalian tahu, serta beberapa tips umum yang mungkin bermanfaat untuk kalian.