Sebenernya cerita kali ini adalah bagian kedua dari cerita PhD. Saya letakkan di bagian kedua, karena menurut saya ada hal yang lebih penting daripada sekedar bertanya “apa saja”, yaitu yang ceritanya bisa kalian baca disini. Sekali lagi, cerita ini saya tulis karena adanya beberapa permintaan dari teman-teman untuk tahu lebih detail tentang proses penerimaan PhD, di samping ada juga yang bertanya bagaimana tips dan trik mendapatkan PhD. Sebelum saya mulai, saya pingin bikin klaim bahwa cerita ini tidak umum, artinya tidak bisa dimaknai untuk semua kasus dan skema. Cerita ini sangat individu dan mungkin hanya berlaku di kasus atau pengalaman saya. Meskipun akan saya kasih gambaran secara umum juga di cerita ini, namun di luar sana banyak kasus dan skema yang lebih spesifik yang hanya berlaku untuk PhD tersebut. Pasti kalian paham maksud saya, jadi mari kita lanjutkan.

Saya akan cerita sedikit latar belakang pendidikan saya. Saya ini anak beasiswa. Sejak S1 sampai S2 bergantung (walau tidak sepenuhnya waktu S1) oleh beasiswa. Saya berhasil menempuh S1 melalui banyak beasiswa (akan saya ceritakan nanti) di Teknik Fisika UGM (2010 – 2015), dan menempuh S2 di Teknik Fisika ITB (2016 – 2018) dengan beasiswa LPDP. Bidang saya adalah Akustika dan Fisika Bangunan. Ketika menjalani S2, saya juga mendapat kesempatan menempuh sandwich program (bukan makanan) selama 3 bulan di School of Computing, Sciences and Engineering, University of Salford, UK. Tepatnya di bidang Acoustics and Audio Engineering. Itu juga dengan beasiswa World Class University ITB. Intinya, saya anak beasiswa yang dengan itulah saya bisa sekolah.

Saya lulus dari ITB di bulan Juli 2018 kemudian kembali ke institusi tempat saya berkarya sejak S1, yaitu insgreeb. Sambil bekerja di sana, saya mencari peluang untuk berkarya sebagai tenaga pengajar di universitas (dosen), namun sayangnya nasib belum membawa saya ke sana (cuma nyoba sekali sih, hehe). Begitu tahu saya ga lolos, saya langsung mencari peluang PhD. Perlu diketahui, ada beberapa tipe peluang yang bisa kita ambil ketika ingin menempuh studi PhD. Detil mengenai apa itu PhD dan apa bedanya sama doctorate, dan info lainnya mungkin bisa kalian temukan disini. Namun disini saya akan bicara lebih kepada program PhD.

Berdasarkan tipe PhD nya ada 2 jenis, yaitu PhD by study dan PhD by research. PhD by study (bisa juga dikatakan by course) mengharuskan kita menempuh perkuliahan yang jumlahnya tidak sedikit, namun sesuai porsinya. Selanjutnya kita akan melakukan riset untuk disertasi kita di tahun terakhir. PhD jenis ini banyak diterapkan di Amerika dan umumnya ditempuh selama 3.5 – 4 tahun. Sementara PhD by research biasanya lebih mengutamakan aktivitas riset daripada belajar di kelas. Mata kuliah (courses) diambil seperlunya saja sesuai dengan topik riset yang dikerjakan dan untuk persyaratan akademik universitas. PhD jenis ini banyak diterapkan oleh negara-negara Eropa dan biasanya ditempuh selama 3 – 4 tahun (mayoritas 3 tahun).

Sementara itu, menurut programnya (terutama pembiayaan), program PhD dapat dibagi menjadi 3 yaitu melalui 1) perekrutan, 2) beasiswa, dan 3) biaya mandiri.

1. Perekrutan

Banyak universitas-universitas, terutama di Eropa, yang membuka perekrutan (vacancy) untuk PhD students. Perekrutan ini maksudnya kalian akan bekerja sebagai PhD students, tetap studi, tapi dianggap sebagai karyawan yang bekerja melakukan riset tertentu. Perekrutan ini biasanya dilakukan oleh tiap departemen, atau bahkan grup riset / lab, ketika mereka mendapatkan funding untuk mengerjakan proyek tertentu. Dengan demikian, PhD jenis in biasanya sudah lebih mengetahui apa yang akan dikerjakan untuk risetnya, dan mungkin bahkan diarahkan. Untuk mendapatkan info tentang vacancy tersebut, kalian bisa mencarinya melalui banyak sumber, misalnya dari link ini, atau mengecek langsung di tiap universitas / departemen / lab yang kalian sudah tahu sebelumnya, dengan menambahkan kata kunci “vacancy” atau “PhD vacancy“. Butuh effort? Jelas. Kalau kalian mau sekolah, dan tanpa membayar, sudah pasti usaha yang dibutuhkan lebih ekstra keras. Semangat!

Satu hal yang sudah pasti perlu diketahui, karena ini program perekrutan, maka tanggung jawab kalian sangat mungkin lebih dari sekedar meneliti. Itu semua tergantung siapa yang merekrut. Jika kalian berperan sebagai pekerja (employee) di universitas / departemen, maka kalian akan dibebankan waktu mengajar sejumlah jam tertentu. Beberapa mengharuskan kalian membimbing mahasiswa S1 atau S2 baik secara formal maupun tidak. Tipe yang lain (industrial PhD) adalah kalian berperan sebagai pekerja di perusahaan atau industri yang bekerja sama dengan universitas kalian berada. PhD tipe ini umumnya tidak diharuskan mengajar, dan hanya fokus pada riset yang dikerjakan karena yang membayar salary kalian adalah perusahaan / industri tersebut, bukan universitas.

Saya mencoba kedua tipe tersebut ketika mendaftar PhD, dan yang saya dapat dan jalanin sekarang ini adalah tipe kedua (industrial PhD).

Untuk jenis PhD yang melalui perekrutan ini, biasanya prosesnya lebih banyak yang perlu ditempuh dan syaratnya lebih detil. Kenapa? Karena mereka mencari orang yang mereka anggap bener-bener kompeten, sesuai standar mereka, dianggap bisa mengerjakan proyek mereka dengan hasil yang baik, dan yang paling penting dapat bekerja di working environment mereka. Kalian akan melalui screening proses dari applicant yang jumlahnya, well, ga sedikit. Lalu jika committee tertarik dengan aplikasi kalian, mereka akan meminta beberapa berkas tambahan yang lebih detil (misalnya tesis S2 kalian). Selanjutnya jika mereka masih tertarik, kalian akan diundang untuk wawancara secara online. Wawancara ini merupakan proses yang paling menentukan. dan bisa jadi kalian mendapat undangan wawancara lebih dari sekali. Ini adalah momen yang membuat mereka apakah akan lebih mantap ataukah tidak. Selanjutnya adalah pengumuman penerimaan dan hal-hal yang lebih teknikal dan praktikal.

Beasiswa bisa kalian dapatkan dari institusi dalam negeri (misalnya DIKTI dan LPDP), luar negeri tergantung negaranya (misalnya AAS australia, MEXT Jepang, Eiffel Prancis, NZAS New Zealand, Fulbright Amerika), maupun universitas (seperti beasiswa KAIST, KAUST). Masih banyak lagi universitas dan lembaga negara pemberi beasiswa yang belum saya sebutin disini tapi bisa kalian cari melalui Google. Beasiswa tersebut menyediakan fasilitas yang berbeda-beda dan nominal yang juga berbeda-beda. Umumnya tiket pergi – pulang sebanyak 1 kali (asumsi saat berangkat dan setelah lulus), biaya hidup bulanan (living allowance), beberapa juga menawarkan pelatihan bahasa, biaya buku, pengerjaan disertasi, konferensi, dan insentif publikasi.

Proses seleksinya berbeda-beda. Beberapa hanya melalui berkas dan online interview. Ada juga yang melalui proses wawancara langsung sesuai regionalnya. Bahkan ada juga yang melalui FGD, wawancara, dan esai. Dijalani saja dengan sebaik-baiknya and let’s see what’s happen next.

Setelah mendapat beasiswa, mendaftar sekolah PhD dengan beasiswa macam ini menurut saya ga begitu rumit selama persyaratan lengkap dan sudah memenuhi standar mereka, kalian akan diterima. Tuntutan kalian juga tidak banyak, hanya ikut perkuliahan, meneliti, menyelesaikan disertasi dan lulus sidang. Mungkin akan ada tambahan tuntutan jika beasiswa kalian diberikan oleh universitas dan jika itu jenisnya adalah beasiswa (bukan bekerja), tuntutannya juga tidak begitu banyak.

3. Biaya Mandiri

Bagian ini ga usah saya bahas ya. Intinya kalian punya uang, mau sekolah, ikuti aturan universitas dan arahan supervisor. Selesai.

Selanjutnya….

Apa aja sih hal yang perlu kalian persiapkan untuk mendaftar program PhD, terutama PhD dengan skema perekrutan (employee)? Saya akan coba list buat kalian:

  • Ijazah dan Transkrip S1 dan S2: Siapkan kedua benda ini dalam softcopy dan sudah ditranslasi ke bahasa Inggris. Kalian bisa minta ke administrasi universitas masing-masing.
  • CV (Curriculum Vitae): Buatlah CV yang formal dalam bahasa Inggris. Tips: tuliskan yang penting-penting saja terkait biodata dasar, rekam jejak pendidikan, pengalaman bekerja, daftar publikasi, dan (kalau perlu) awards. Pastikan semuanya yang terkait dengan bidang yang kalian daftar. Kalau ngga terkait, walaupun itu sangat prestisius, bisa jadi tidak perlu dicantumkan. Buatlah CV tidak lebih dari 2 halaman. Ini tantangan memang.
  • Surat Motivasi (Motivation Letter): Surat ini memberi deskripsi tentang siapa kita secara singkat, bidang akademik / riset kita, mengapa kita tertarik ke topik / program yang ditawarkan, apa keuntungannya bagi kita dan pengembangan karir kita, dan bisa jadi mengapa kita akan memberikan benefit untuk proyek atau institusi mereka. Tuliskan tidak lebih dari 1.25 halaman, biasanya 1 halaman saja. Ini tantangan juga.
  • Surat Tujuan (Letter of Purpose): Sedikit berbeda dengan surat motivasi, Letter of Purpose ini lebih menceritakan latar belakang dan tujuan kita mendaftar program yang ditawarkan. Beberapa sumber menyatakan keduanya sama saja. Kalian bisa lihat di Google mengenai perbedaan dan contoh masing-masing.
  • Sertifikat Bahasa Inggris: Hampir semua program pendidikan mensyaratkan ini, terutama di jenjang S2 / Master. Untuk S3, mayoritas institusi sangat mempertimbangkan hal ini namun beberapa institusi tidak menjadikannya pertimbangan utama. Namun siapkanlah sertifikan bahasa Inggris sesuai kebutuhan yang dipersyaratkan. Bahasa Inggris yang dibutuhkan bisa jadi TOEFL-iBT atau IELTSyang keduanya tidaklah murah harga official test nya.
  • Reference / Referee (Pemberi Referensi): Beberapa skema meminta hal ini dalam bentuk surat tersendiri yang bernama surat referensi (Letter of Reference), yang isinya orang tersebut merekomendasikan kita untuk mendaftar program PhD yang ditawarkan. Orang tersebut bisa mantan supervisor kita, kolega dosen kita, dosen terkait di bidang tersebut, atau bahkan atasan kita di kantor. Pastikan orang ini dapat dicari di mesin pencari, baik secara profesionalitasnya atau akademiknya. Beberapa skema lain tidak memintanya dalam bentuk Letter, namun hanya mencantumkan nama pemberi referensi, institusi, dan kontak emailnya bersama di dalam CV kita (tambahkan 1 bagian reference di 2 halaman tadi). Lazimnya, pemberi referensi adalah 2 orang.
  • Publikasi ilmiah: S3 dinilai dari seberapa mampu menghasilkan publikasi dan seperti apa kualitas publikasinya. Sementara S2 baru dinilai dari seberapa mampu menghasilkan publikasi. Jika kalian memiliki publikasi ilmiah di bidang kalian, apakah itu paper konferensi atau bahkan jurnal, lampirkan saja. Itu memberikan nilai lebih dan memberikan gambaran bahwa kalian bisa produktif secara akademik.
  • Copy of Master’s Thesis: hal terakhir yang saya tulis ini sebenernya adalah benda terpenting kalo kalian mau mendaftar PhD vacancy. Saran saya, kalau kalian memang berniat mencari PhD dengan jalur vacancy, tulislah tesis S2 kalian dalam bahasa Inggris, dan ini yang saya lakukan saat S2. Sulit dan jarang memang untuk pendidikan S2 di Indonesia, tapi pasti bisa jika kita niatkan. Percayalah! Di awal atau di akhir, committeeakan meminta dokumen tesis kalian untuk tahu lebih detil riset seperti apa yang telah kalian kerjakan saat S2. Kalian beruntung kalau committee hanya meminta ringkasan tesis S2 kalian. Namun bayangkan kalau kalian menuliskannya dalam bahasa Indonesia dan mereka meminta full-text tesisnya? Tidak mungkin kan kalian mengirimkannya dalam bahasa Indonesia? Jalan paling benar adalah kalian menerjemahkannya yang tentunya jumlahnya sangat banyak dan kualitasnya tidak akan jadi bagus. Padahal waktu yang kalian punya sangat sempit. Atau jalan mudahnya (tapi kurang baik), kalian mengatakan kalau kalian tidak bisa mengirimkannya karena dalam bahasa Indonesia. Belum tentu tidak berhasil, tapi saran saya, berjuanglah kawan-kawan, dan lakukan yang terbaik untuk cita-cita kita sendiri. 🙂

 

Oke sobat #MomenCerita. Apa yang saya jelasin di cerita ini adalah gambaran umum tentang PhD, proses umum seleksinya, tipe pembiayaannya, dan apa saja yang perlu disiapkan sejak awal. Cerita tentang pengalaman spesifik tentang bagaimana yang saya lakukan selama mencari, mendaftar, proses seleksi sampai diterima bisa disimak disini. Sekali lagi, semua yang saya tulis di cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi, dan bisa jadi berbeda dengan yang kalian telah atau akan alami. Kalau kalian punya sudut pandang atau pengalaman lain, bagi ceritanya juga ya!